Cerpen Bertema Cinta dan Pengkhianatan

Kisah di akhir tahun.
Dan ya, waktu bisa merubah segalanya.
I wish everything get better next year...





Daun Di Pucuk Cemara

Kabut putih tipis masih menyelimuti dinginnya pagi ini. Butir-butir embun masih menempel di pucuk-pucuk daun dan di ranting-ranting cemara. Hawa dingin pun masih bergelayut di tubuhku, menembus kulit, dan menusuk tulang.
Suasana disini berbeda. Ya, berbeda. Dari dulu aku selalu suka perbedaan. Bagiku perbedaan itu membuat hidup ini benar-benar hidup. Banyak warna dan banyak rasa dalam kehidupan karena ada perbedaan. Dan perbedaan itu akan selalu ada sampai kapan pun.
Matahari pertamaku disini, terlihat menawan. Sinarnya mencuat di balik rimbunnya pohon cemara. Tanpa terasa kakiku telah melangkah sejauh 4km. Bukan jarak yang jauh, tapi medan yang dilalui cukup membuatku lelah. 15 menit berlalu, akhirnya aku dan teman baruku sampai di tempat tujuan-sungai.
Airnya jernih dan sangat dingin. Bebatuannya juga memiliki ukuran yang bervariasi. Aku duduk di salah satu batu yang cukup besar. Memejamkan mata, menikmati udara yang berhembus lirih ke tubuhku, membayangkan Ale bersamaku. Saat membuka mata, sebuah pemandangan hebat melesat di depanku. Cahaya matahari bergerak menaiki bukit, menyinari air, dan membuatnya berkilauan. Mengesankan. Ale aku ada disini, di tempat yang sering kau ceritakan.
Matahari semakin tinggi, aku dan teman baruku segera pulang. Hari ini waktu berjalan begitu lambat. Mungkin karena aku sudah tak sabar ingin bertemu Ale. Bayangkan saja aku jauh-jauh kesini, ke tempat yang tak pernah ku singgahi, dan sendiri hanya untuk bertemu dia. Beruntung aku punya teman baru yang mau membantuku-Sasta. Dia anak pemilik penginapan.
“Ra, kenapa nggak sekarang aja ketemunya? Aku penasaran nih. Dia asli sini bukan? Terus dia tahu nggak kalau kamu kesini?”
“Nanti kamu juga tahu.”
“Terus kamu mau ketemu kapan?”
“Nanti sore, pukul 17.00 , aku minta dia ke bukit yang ada di ujung desa, dekat jembatan utama.”
“Mau lihat sunset ya? Mmm tapi maaf Ra, aku nggak bisa nemenin kamu, aku ada janji.”
“Oh, nggak apa-apa kok.”
***
Pukul 16.30
“Mau kemana Non, cantik amat.”
“Eh Bibi, mau kasih surprise nih. Doain aku ya.”
Jawabku sambil berlalu. Aku tak ingin terlambat dan membuatnya lama menunggu. Aku masih ingat 6 bulan yang lalu saat dia akan pergi. Katanya...
“Andai saja kamu ada disana, aku ingin menikmati hari ulang tahunku bersamamu Ara.”
Ahh rasanya aku ingin lari, tapi entah mengapa kakiku serasa berat untuk melangkah dan tiba-tiba saja jalannya terasa amat panjang bak tiada ujungnya. Ale tunggu aku.
Jam menunjukkan pukul 16.45. Matahari beranjak turun dan sinarnya kian memudar. Jantungku berdegup hebat ketika langkahku terhenti di balik pohon cemara. Ale ada disana. Aku mencoba menenangkan perasaanku sembari menyalakan lilin diatas kue ultah yang kubawa. Beruntung angin berhembus pelan membiarkan lilin tetap menyala. Dan saat aku muncul dari balik pohon, kekembangkan senyumku, bersiap memanggil namanya.
“Ale?”
Bukan, itu bukan suaraku.
“Udah lama? Ada apa?”
“Eh hay, akhirnya datang juga. Hari ini hari ulang tahunku. Ada seseorang yang memintaku menikmati sunset disini. Dan aku ingin menghabiskan sisa cahaya itu bersama orang yang ku sayang. Bersamamu Sasta.”
Kue terlepas dari peganganku, begitu juga dengan air mata yang tak mampu tertahan oleh kelopakku.
“Ale, Sasta.”
Panggilku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Mereka saling terdiam. Tak lama Sasta berdiri dan bertanya.
“Seseorang? Siapa orang itu?”
“Kamu”
“Bukan, yang memintamu kesini?”
Ale terdiam.
“Kiara?”
“Darimana kamu tahu?”
“Ini salah! Seharusnya bukan aku yang disini Ale!”
Jawabnya. Bibir Sasta mulai bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya dan menemukan aku yang tengah terpaku. Lengang sesaat. Aku menatap Sasta, kemudian Ale, sebelum akhirnya aku berkata.
“6 bulan Ale, 6 bulan kita terpisah oleh jarak dan waktu, 6 bulan kita ada di tempat dan kesempatan yang berbeda. Buat aku, itu bukan situasi yang sulit untuk menjaga cinta ini. Tapi ya, kamu bukan aku. Bukan aku yang bisa bertahan didalam perbedaan.”
“Kiara? Aku...”
“Selamat ya Le, tempat ini mampu membuatmu lupa kalau ada cinta yang lain di tempat yang berbeda.”
Cahaya matahari berpendar di angkasa. Warna jingganya dan gugusan awan disana membuat langit sore terlihat menakjubkan. Aku berlari meninggalkan mereka, dan berhenti di seberang jembatan utama. Memejamkan mata, berusaha mendamaikan jiwaku. Aku tak mengerti. Dari dulu aku selalu suka perbedaan, dan untuk pertama kalinya aku benci perbedaan.
Semesta telah kehilangan sinarnya. Matahari menghilang tak disini lagi. Mengukir kisah baru di tempat yang berbeda, dan akan kembali lagi dengan kisah yang lain. Perlahan mataku mulai terbuka. Aku ingin menikmati cahaya terakhir disini. Pemandangan yang kulihat hanya daun di pucuk-pucuk cemara. Daun itu berbeda dengan yang lainnya. Beda bentuk dan beda tempat, atau bahkan ada perbedaan yang lain. Daun yang di pucuk itu akan jadi yang pertama terpancar cahaya, tapi mungkin dia juga akan jadi yang pertama luruh di tiup angin musim. Jadi apa dia suka perbedaan?

Komentar

  1. sepenggal kisah cinta, banyakin yahh kisah-kisahnya, jangan berhenti berkarya.

    BalasHapus
  2. Ok..
    Iya, mari berkarya untuk Indonesia!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer