Cerpen Tentang Berpenampilan
Terkadang seseorang ingin menjadi cantik tetapi harus menjadi diri orang lain.
Padahal, belum tentu dia berhasil.
Cantik itu alami dari diri sendiri.
Padahal, belum tentu dia berhasil.
Cantik itu alami dari diri sendiri.
My
Style
Nama gue Alena, tapi gue lebih
dikenal dengan nama Alien. Katanya gue itu galak, sombong, songong, tapi baik
hati. Jadi kesimpulannya gue itu misterius, kayak alien yang nggak diketahui
asal-usulnya. Usia gue 17 tahun, tapi itu 6 tahun yang lalu. Gue sekarang
bekerja di salah satu perusahaan asing di Indonesia. Gajinya lumayan, bisa buat
pergi ke salon tiap hari. Nanti sore gue ada janji sama belahan jiwa gue.
Suami? Ya bukan lah, gila loe, gue masih muda, masih cantik, dan baru ngerasain
seneng punya duit sendiri masa udah nikah. Belahan jiwa yang gue maksud adalah
pacar. Nyebut dia sebagai belahan jiwa, karena gue cuma ikut-ikutan. Padahal
menurut gue pribadi, yang dimaksud belahan jiwa itu adalah pasangan hidup. Ups,
gue kan harus ke salon. Biasanya gue ngabisin waktu disana tu 3-4 jam. Gawat,
bisa telat ni.
Ngomongin masalah penampilan, dulu
gue cuek banget. Baju jarang di seterika, sepatu jarang di cuci, bahkan mandi
aja sebulan sekali. Haha gila, ya nggak lah.
Gue masih ingat waktu gue kelas 2
SMA. Temen-temen gue mau ngerubah penampilan gue. Katanya sih biar gue
kelihatan feminim, rapi, dan cantik. Hih, padahal gue nggak suka tu cewek
feminim.
“Lien, loe tu harus pake make up
biar aura cantik loe lebih kelihatan.”
“Nggak! Loe jangan coba-coba
nempelin tu warna-warna berkelap-kelip di kelopak mata gue.”
“Ini eye shadow Lien.”
“Ya udah kalau loe nggak mau pakai
itu, mending pakai yang ini aja.”
“Dih! Loe mau pakein cairan
gitu-gituan di bibir gue? Nggak, nggak.”
“Cuma lipgloss sayang.”
“Pakai ini aja, bedak.”
“Nggak! Jangan taburin itu di muka
gue.”
“Ini padat kok.”
“Pokoknya nggak, jauhin tangan loe
dari muka gue.”
“Coba dulu.”
“Nggak. Loe mau bikin muka gue kayak
kuntilanak pucat?”
“Ya udah, pakai yang paling simple
aja. Taraaaaaaa... pensil alis, mascara, dan eye liner,”
“Nggak!!!”
Hari berikutnya, gue dan temen-temen
gue pergi ke mall.
“Lien, Loe harus coba baju ini.”
“Hah? Loe nyuruh gue pakai baju
tanpa lengan? Loe kira gue nggak mampu beli baju yang berlengan?”
“Eh ni gue bawain rok, coba deh.”
“Itu terlalu pendek, kalau ketiup
angin gimana?”
“Please deh, ini pas kok.”
“Lien, ni bajunya berlengan tapi
tetep modis kok.”
“Ni gue cariin celana pendek,
dijamin nggak bakal terbang.”
“Nggak!!!”
Esoknya kita pergi ke mall lagi,
tapi bukan cari pakaian.
“Lien, coba deh. Tinggi dan mewah.”
“Loe kan tahu gue nggak bisa pakai
high heels.”
“Latihan donk.”
“Kapan-kapan aja ya guys.”
“Hello! Gue tahu siapa loe Lien. Loe
bilangnya kapan-kapan, tapi kapan-kapannya itu entah kapan, mungkin nunggu
alien pada turun nganterin makanan.”
“Hehe.”
Hari-hari berikutnya tetap sama,
mereka terus mencoba untuk merubah style gue. Dan hasilnya juga tetap sama.
Gagal. Akhirnya mereka menyerah, dan membiarkan gue berpenampilan seperti apa
yang gue suka. Pakai kaos oblong lengan panjang, celana tanggung, topi kebalik,
dan sepatu bertali. Keren kan?
Mereka nggak pernah ngajak gue ke
salon, mungkin mereka tahu kalau gue sukanya rambut lurus sebahu, atau mungkin
mereka sadar kalau percuma ngajak gue kesana.
Eh kelamaan bernostalgia, udah jam
12.40 WIB nih. Harus ekstra cepat di salon. Emang ya kalau mengingat masa lalu
nggak akan pernah ada habisnya.
Pukul 15.55 WIB.
Akhirnya selesai juga, sekarang gue
udah siap nih. Pakai dress tanggung warna coklat lengkap dengan blazer yang
warna coklatnya lebih gelap, tas kecil bergantung di tangan kanan, wedges
berhak 7cm, rambut di bikin model kriting gantung, dan make up tipis yang
menyempurnakan penampilan gue.
Gue merubah penampilan seperti ini sejak
setahun yang lalu. Sebenarnya sejak masuk kuliah gue juga udah mulai ganti
style sih. Misalnya pakai baju-baju yang nggak terlalu longgar. Gue nggak tahu
kenapa style gue bisa berubah gini. Dan mungkin akan berubah beberapa tahun ke
depan. Bisa aja gue jadi berhijab.
Ok guys, kayaknya gue harus cabut
sekarang, kasihan bebeb udah menunggu. Dan satu pelajaran buat kalian semua
tentang berpenampilan, loe itu nggak perlu ngikutin gaya orang lain, atau
ngikutin perkembangan zaman, percuma, nggak akan ada habisnya. Loe cukup
berpenampilan seperti apa yang loe suka. Dan yang terpenting style itu cocok
dengan hati nurani loe.
Komentar
Posting Komentar