Cerpen Romantis
RANTING PATAH
“Kalau aku tahu cinta itu sakit, aku akan memilih untuk tidak mengenalnya,” seorang wanita berusia 27 tahun itu menatap datar pada Tina―seorang wanita seusianya yang kini duduk persis di hadapannya. “Dulu, aku akan bilang itu benar.”
Ruangan 4x4m itu lengang. Rintik gerimis mulai turun di luar, tergelincir di atas genting. Jatuh. Beberapa terbawa angin masuk ke dalam dan mendarat pada pipi seorang wanita berusia 27 tahun itu yang diketahui bernama Lifi.
“Cinta itu egois Tina,” Lifi menatap keluar, menembus kaca yang bening, dan menembus waktu yang telah berlalu.
***
Gugur daun di musim kemarau. Ranting patah. Pohon meranggas. Semua yang ada nampak sama. Kering. Seekor burung kecil keluar dari sarangnya. Bukan, tepatnya seekor burung kecil meninggalkan sarangnya. Mengepakkan sayap, melesat di udara. Barangkali dia hendak bermigrasi, menyusul kawanannya yang sudah lebih dulu pergi. Seekor ulat kepompong nampak masih menggantung di ujung ranting yang terjatuh. Tubuhnya tertindih oleh dahan pohon yang juga patah. Mati. Miris sekali. Harusnya beberapa hari ke depan dia bisa memulai kehidupan yang baru. Terbang kemana saja. Hinggap di bunga yang dia suka. Dan mencari cinta. Seorang wanita bernama Lifi memandang getir.
“Dunia ini begitu kejam,” ucapnya dalam hati.
Lifi kembali menyeret kakinya. Sakit di pergelangan kaki membuatnya susah berjalan. Dengan sisa tenaga yang ada, dia terus berjalan menuju kursi panjang berwarna coklat yang berada tepat di bawah pohon pinus yang melengkung tajam di salah satu dahannya.
Jilbab biru muda Lifi berkibar di hembus angin pagi. Sinar matahari yang memancar terang menyirami tubuhnya, memberi kehangatan.
Dua belas menit berjalan kaki di jalan yang menanjak dengan kondisi kaki yang tidak mendukung cukup membuatnya letih. Lifi menyandarkan tubuhnya di kursi yang dia cari. Dipijitnya pelan pergelangan kaki yang tadi terkilir di dekat pintu masuk hutan pinus. Titik-titik keringat nampak berhias di sekitar wajah cantiknya. Lifi mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pagi yang sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang yang duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Hari ini adalah pesta pernikahan Bian, sepupu laki-lakinya. Tidak seperti kebanyakan orang yang menggelar resepsi pernikahan di gedung-gedung mewah, taman, atau bahkan di kapal pesiar, Bian lebih memilih untuk menggelarnya di tempat wisata hutan pinus. Dia ingin suasana yang berbeda. Selain itu dia ingin memberi sesuatu yang berkesan di acara pernikahannya.
“Ah, kenapa anak itu harus memilih tempat ini?” Lifi bergumam lirih. Keningnya mengkerut membuat ke dua alisnya nyaris bersatu.
“Selamat pagi Nona Lifi, mari saya antar ke ruang rias. Tuan Bian dan keluarga juga sedang bersiap.” Salah satu anggota WO datang menghampiri Lifi. Seulas senyum tercipta di ujung kalimatnya.
Tiga jam setelah kaki Lifi terkilir, kursi-kursi panjang yang telah disediakan itu mulai terisi ramai. Sebagian tamu yang ada adalah teman-teman Bian dan istrinya. Hampir semua yang datang langsung menyambar segelas air dingin untuk menyejukkan tenggorokan mereka yang kering. Sebenarnya bukan suasana seperti ini yang Bian harapkan. Bian menginginkan acara pernikahannya di gelar di alam terbuka yang sejuk dengan pemandangan yang menawan. Tapi nyatanya Bian keliru, kemarau datang lebih panjang. Menghapus impian yang telah dia rajut sejak lama, tapi setidaknya dia masih bisa menggelarnya disini bersama wanita yang paling dia cintai. Dan lagi, masih banyak daun hijau di sekitar tempat resepsi yang mampu membuat suasana tak begitu panas.
Semilir angin berhembus dari puncak hutan pinus, menyisir tiap ruas kehidupan yang ada. Sehelai ranting kering terhempas ke bawah, tergeletak tak berdaya. Para tamu undangan yang hadir nampak telah memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan. Sepasang pengantin yang dibalut dengan busana berwarna putih juga telah bertahta di singgasananya. Senyum-senyum kebahagian menghiasi hutan pinus hari ini.
Gema suara alunan melodi mulai terdengar mengisi acara. Para pelayan berseragam hitam putih terlihat sibuk kesana kemari mengantar makanan. Semakin siang, tamu undangan semakin ramai. Lifi memainkan jari-jari tangannya. Dia membuka sebuah pesan di handphonenya yang dia terima semalam.
Maaf Lifi, bukannya aku menolak ajakkanmu, tapi Mama sudah lebih dulu mengajakku pergi.
Lifi menghela napas. Dia paham betul kenapa Arman―kekasihnya, lebih memilih pergi bersama ibunya. Toh apalah artinya Lifi jika dibandingkan dengan seorang wanita yang sangat berjasa di dalam hidup kekasihnya itu? Jari-jari tangan Lifi kembali membuka pesan berikutnya.
Lifi, kita berdua tahu kalau Mama tidak menyukai hubungan ini. Maafkan Mama. Sabar sayang, aku akan berusaha membuat semuanya baik-baik saja.
Lifi memejamkan mata, menahan sakit yang telah dua tahun menderanya. Sampai saat ini dia belum menemukan jawaban kenapa ibu Arman menentang hubungan mereka. Lifi terlahir sebagai gadis yang cantik dan cerdas. Selain itu dia juga gadis yang santun. Apalagi yang kurang? Kekayaan? Kekuasaan? Kalau memang benar itu alasannya, kenapa manusia harus mempermasalahkannya? Kekayaan dan kekuasaan itu bisa dicari. Dan lagi, sumber kebahagiaan seseorang bukanlah berasal dari kekayaan ataupun kekuasaan.
Lifi membuka matanya secara perlahan. Dilemparkan pandangannya ke atas. Biru yang sempurna dan putih awan yang menghampar luas membuat langit begitu cerah. Lifi menarik ujung bibirnya membuat sebuah lengkungan senyum tergambar diwajahnya. Hari ini adalah hari bahagia Bian, dan dia pun akan ikut merayakannya. Masalahnya dengan Arman dan ibu Arman bukanlah suatu alasan untuk menodai hari bahagia ini. Biarlah. Lagipula Arman sudah bilang kalau dia akan berusaha membuat semuanya baik-baik saja.
Lifi bangkit dari kursi tempatnya terduduk, bersiap menghadang tamu yang akan bersalaman dengan Bian dan istrinya. Dia kini telah mengenakan kebaya berwarna hijau seperti anggota keluarga Bian yang lain. Sentuhan make up juga nampak telah mempercantik wajah cantiknya. Dia akan berdiri di ujung depan menyalami tamu yang berdatangan. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sosok Arman datang di acara pernikahan sepupu laki-lakinya dengan menggandeng seorang wanita.
“Kau disini?” Arman bertanya kaku.
“Oh astaga Arman, ini sebuah kejutan. Ternyata ibumu mengajakmu pergi kemari. Dan lihatlah, beliau terlihat sangat muda,” Lifi menjawabnya dengan tak kalah kaku. “Nikmatilah pestanya, semoga menyenangkan.” Lifi beranjak pergi, meninggalkan Arman dengan penuh tanya yang beterbangan di dalam kepala.
Gema suara alunan melodi yang sempat berhenti kembali diperdengarkan. Lagu-lagu bernuansa klasik yang dibawakan oleh penyanyi-penyanyi di atas panggung membuat para tamu undangan terbawa ke era 90’n. Tak jarang dari mereka juga ikut berkomat-kamit mengikuti para penyanyi bersenandung. Arman melepas tangannya dan menyusul Lifi yang kembali duduk di kursi panjang berwarna coklat di bawah pohon pinus yang melengkung tajam di salah satu dahannya.
“Aku tahu ibumu tidak menyukai habungan kita Arman. Aku juga sudah siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Selama ini aku bertahan karena ada kau yang selalu membuatku percaya kalau kita mampu melewatinya. Arman, aku tahu ini akan terjadi, tapi kau tak perlu berbohong.” Lifi menatap ke entah.
Ranting kembali patah, terjatuh di atap tenda tempat makanan dan minuman tersaji. Sepasang pengantin yang duduk di singgasananya tertawa manja di goda oleh pembawa acara. Kemudian suara alunan melodi kembali menggema di udara. Para pelayan berseragam hitam putih semakin sibuk mondar-mandir membawa makanan untuk tamu undangan yang semakin sesak. Riuh suara musik dan derai tawa menutupi kesedihan di hati Lifi.
***
Ruangan 4x4m itu di kunjungi oleh dua orang wanita berusia 27 tahun dengan pikiran masing-masing. Bulir-bulir air hujan berjatuhan semakin deras. Sudah satu minggu ini hujan membungkus kota. Cucian-cucian baju kotor nyaris tak ada yang kering. Sinar matahari yang hangat menghilang beberapa hari terakhir. Gumpalan awan hitam yang pekat masih berkuasa di angkasa.
“Mungkin kau merasa jijik melihatku menangis, tapi Lifi maafkanlah aku yang harus menangis di hadapanmu untuk menangisi kesalahanku yang dulu.” Tina kembali terisak.
“Kenapa harus minta maaf Tina? Menangis bukanlah sebuah kesalahan, itu ekspresi. Aku memang tidak suka menangis, tapi itu bukan berarti aku benci air mata. Lagipula aku percaya, ada suatu ketika dimana seseorang perlu menangis.” Lifi tersenyum simpul.
“Lifi, maaf karena aku membuatmu terluka di hari yang bahagia itu. Percayalah, bukan Arman yang mengajakku menghadiri acara pernikahan Bian. Tapi ibunya lah yang meminta Arman menemaniku pergi kesana. Dan lagi Arman juga tidak tahu kalau dia akan pergi ke acara pernikahan Bian, sepupu laki-lakimu. Sungguh,” suara Tina terdengar semakin parau. Wajahnya sendu dan nampak kacau.
“Aku tahu. Tapi itu bukanlah alasanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Arman. Kalau beliau telah memilihmu, maka tak ada hak untukku menentangnya.”
“Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu. Aku mencintai Arman, tapi dia tak mencintaiku. Bagaimana aku akan hidup bahagia bersamanya? Beri tahu aku Lifi, bagaimana cara membuatnya mencintaiku?” Tina mendekap tangan Lifi.
“Banyak orang yang datang kemari untuk menceritakan masalahnya padaku. Aku disini hanya sebagai pendengar klienku dan berusaha memberi pengertian pada mereka. Aku tak bisa membantumu untuk membuat Arman mencintaimu, tapi ada satu hal yang perlu kau tahu. Cinta itu mengajarkan banyak hal Tina. Diantaranya adalah mengajarkan kita untuk bersabar dan ikhlas. Pernikahan kalian sudah berjalan hampir tiga tahun, yakinlah kalau cintamu mampu membuatnya mencintaimu dan membuat hidup kalian bahagia.”
Guyur hujan di musim penghujan. Jalan basah dan banyak kubangan. Sehelai ranting patah dari pohon jambu di halaman. Hujan yang terus berderai membuatnya tak mampu lagi menahan hantaman air yang berjatuhan. Seorang wanita berusia 27 tahun itu menatap sendu pada seorang wanita seusianya yang keluar dari ruangan 4x4m, tempat orang-orang mencurahkan perasaannya.
Komentar
Posting Komentar