CERPEN
PEMUDA
BERWAJAH TIONGHOA
Kapal melaju kencang
menyibakkan air di Laut Jawa. Angin laut berhembus mengibarkan bendera di tiang
putih bagian depan kapal. Burung camar menukik dan menyambar ikan-ikan kecil
sebagai menu pembuka santapan mereka. Jauh di langit timur, sinar matahari
mencuat membelah gugusan awan di angkasa. Dan di dalam anjungan seorang nahkoda
tengah melihat peta dan kompas yang menjadi pemandu jalan di laut lepas.
“Pagi yang cerah. Kau mau kemana?”
seorang pemuda berwajah Tionghoa tiba-tiba bertanya kepadaku. Kulitnya putih
dan berperawakan sedang. Bibirnya tak berhenti menyapa setiap orang yang
berlalu lalang di depannya. Dan senyumnya tetap mengembang sekalipun ada
beberapa orang yang mengabaikannya.
“Martapura,” jawabku sembari
melempar senyum.
Pemuda itu masih sibuk menyapa
beberapa gelintir orang yang lewat untuk sekadar menghirup aroma air laut yang
menyegarkan di luar sembari melepas penat setelah seharian di dalam kapal. Mata
sipitnya berputar-putar sebentar. Perlahan senyumannya mulai hilang terbenam di
pipinya yang cabi. Keningnya mengkerut, membuat tiga buah lipatan besar. Di
samping lipatan itu tergambar sebuah bekas luka yang cukup lebar. Dia
menatapku, mungkin dia tak tahu ada dimana Martapura. Barangkali dia bukan
orang Kalimantan Selatan.
Aku melempar pandangan ke Laut
Jawa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan air yang terlihat biru disana.
Sesekali berkilauan di sorot matahari. Hari ini masih terlalu pagi untuk berjemur
menghangatkan badan, apalagi jika untuk menghitamkan kulit yang ternyata memang
sudah hitam.
“Kalau boleh tahu siapa namamu?”
“Riri,” jawabku singkat.
“Oh. Saatnya sarapan Nona Riri.”
Pemuda itu mengingatkanku
kalau perutku masih kosong sejak semalam. Mabuk laut telah mengeluarkan seisi
makanan di perutku. Rasa mualnya membuatku tak berselera untuk menelan secuil
pun makanan. Lebih baik aku menahan lapar daripada harus makan dan
memuntahkannya kembali.
“Tunggu!” teriakku ketika
pemuda itu mulai melangkah pergi. Dia berhenti dan menoleh kepadaku dengan
menunjukkan gigi putihnya yang kecil-kecil. “Apa kau pernah mengalami
kecelakaan? Ada bekas luka di dahimu, seperti terbentur sesuatu dengan keras.”
“Ini cinta,” jawabnya sembari menyentuh
dahi.
Aku tertegun mendengarnya. Dia
malah tertawa terkekeh-kekeh sebelum akhirnya masuk ke dalam kapal, bersiap
menyantap sarapan di kabinnya.
Ombak di Laut Jawa semakin
besar. Kapal bermuatan 400 penumpang dan barang-barang yang aku naiki terayun-ayun
membuat perutku kembali terasa mual. Ahh bahkan rasa itu masih bisa datang
sekalipun aku tak menelan sesuatu.
“Kau mabuk laut?” pemuda itu
muncul lagi sembari meneguk minuman sebagai penutup sarapannya. Sebuah kacamata
hitam telah terpasang di antara kedua daun telinganya. Sedang di pundak kirinya
telah bergantung sebuah gitar yang warnanya sudah mulai pudar. Tulisan dengan
tinta hitam menjadi hiasan di tubuh gitarnya. Sebagian miring ke kanan dan ke
kiri, sisanya horizontal. “Sebaiknya kau isi dulu perut kosongmu. Aku lihat kau
tak beranjak sedikitpun sejak tadi. Memangnya kau darimana dan mau apa?”
“Surabaya. Kebetulan temanku
ada yang akan menikah di Martapura.”
“Oh begitu. Kau pasti merasa
pusing dan mual. Jadi lebih baik kau menontonku. Anggap saja kau sedang
menonton sebuah konser besar di Walt
Disney Concert Hall, alihkan perhatianmu pada suaraku dan gitarku,
jangan pada perutmu. Dan tentu saja kau boleh ikut bernyanyi selagi kau tahu,”
katanya meyakinkanku. Jari-jari tangan kirinya menempatkan posisi di senar
gitarnya. Jari tangan kanannya menggenjreng keatas dan kebawah sesuai ketukan
lagu yang dia mainkan.
Aku terpana melihat
kepiawaiannya bermain gitar. Suara gitarnya tetap terdengar merdu meskipun
senar nomor empat sampai enamnya sudah mulai berkarat. Dan angin berdesau lirih
membawa suara gitar terbang jauh ke angkasa dan menyebar di Laut Jawa.
Suasana seperti ini
mengingatkan aku pada Daffa. Sepanjang bulan Desember tahun lalu dia selalu
menghujaniku dengan cinta lewat lagu dan irama. Setiap hari libur dia selalu
datang ke kontrakanku pukul 07.00 , bahkan setiap sore sepulang kerja dia
selalu menyempatkan waktu untuk datang. Di akhir pertemuan dia selalu
berkolaborasi dengan gitarnya untuk membawakan sebuah lagu “Sekali Ini Saja”
milik Glenn Fredly. Katanya, “Terimakasih
Tuhan telah mengizinkan aku melihat ciptaan terindah-Mu. Semoga aku masih bisa
melihatnya esok pagi.” Ahh itu benar-benar membuatku melambung tinggi ke
angkasa dan sulit tuk kembali lagi ke bumi. Kata-kata itu selalu dia ucapkan
sebelum pulang. Tapi entah mengapa aku tak pernah bosan dan selalu melayang
acap kali mendengarnya.
Andai saja Daffa ada disini,
duduk di sampingku untuk menikmati keajaiban dunia fana yang merapuh. Pasti
perjalananku kali ini akan lebih baik. Ahh Daffa, aku masih ingat hari terakhir
kita bersama. Kita pergi ke acara ulang tahun Mirna, tepatnya tanggal 31
Desember tahun lalu.
“Kenapa kau ingin datang
kesana denganku?” suara khas Daffa yang sedikit serak memecah keheningan.
Bibirku bergeming, aku terus
saja menatap bingkisan kado untuk Mirna sembari berjalan lurus ke depan. Jarak
kontrakanku dengan kontrakan Mirna tak begitu jauh, hanya lurus kemudian belok
kiri di pertigaan.
“Ahh, auw, ugh,” aku meringis kesakitan. Kakiku terjerembab di
gorong-gorong karena berjalan meleng.
“Kita sudah putus sejak bulan
lalu,” kata Daffa sembari jongkok dengan ke dua kaki berjinjit di sampingku.
“Kenapa kau ingin...”
“Bisakah kau berhenti bertanya
dan bantu aku!” sergahku. Aku tak ingin membahas hal itu. Aku dan Daffa memang
sudah putus. Saat itu kita bertengkar hebat, dan akhirnya kita membuat kesepakatan
kalau hubungan kita akan berlanjut jika kita sudah saling mengerti. “Tak ada
yang harus dijawab Daf.”
“Aku tak butuh jawaban Ri. Aku
butuh alasan. Bukankah di dalam kehidupan selalu ada alasan? Alasan mengapa kau
ada, kau hidup, dan bahkan munculnya masalah sekecil debu pun pasti punya
alasan. Kau ingin datang ke acara Mirna dan memberi hadiah untuk suatu alasan
bukan?” Daffa bangkit sembari menarik tanganku.
“Aku menyayangi Mirna. Dan..
kau.”
Daffa tersenyum puas mendengar
jawabanku. Dia selalu pandai membuat orang tak bisa berkelit.
Sepulang dari kontrakan Mirna,
aku dan Daffa pergi ke pinggir lapangan. Kita ingin merayakan tahun baru
sebentar. Makan aromanis sembari menyaksikan warna-warni kembang api yang
berpendar di angkasa.
Hari itu tak ada gitar dan
nyanyian. Tak ada lagu Glenn Fredly di akhir pertemuan. Dan tak ada kata-kata
yang biasa di ucapkan Daffa sebelum pulang. Tapi hari itu tetaplah hari yang
indah sampai suatu kabar datang pada senja pertama di tahun baru. Kabar yang
akan mengakhiri segalanya. Ya, Daffa kecelakaan. Dan selepas maghrib Tuhan
memintanya kembali. Kontrak kerjaku habis, dan kisahku dengan Daffa berakhir.
Ku tinggalkan Mirna dan Jakarta.
***
“Kau tahu,” ucap pemuda itu di
akhir lagu pertamanya. “Terkadang kita butuh cinta untuk menyanyikan sebuah
lagu. Modal suara merdu saja tak cukup. Dan untuk memainkan sebuah alat musik
dibutuhkan rasa. Modal kepiawaian pun tak menjadikan suara yang diciptakan
mengalun indah, hanya enak di dengar saja.”
“Lalu bagaimana
mendapatkannya?”
“Tak ada, cinta dan rasa
mengalir begitu saja. Mungkin, sedikit inspirasi bisa membantu.” Seulas senyum
tercipta di ujung kalimatnya.
Jari jemarinya kembali menari
di atas senar gitar. Birunya air laut nampak menggenang di kacamatanya. Dan ku
habiskan sisa perjalananku di geladak kapal bersama pemuda berwajah Tionghoa.
***
Kapal telah menepi, dan
jangkar pun di lempar. Semua penumpang beramai-ramai turun keluar. Berdesak-desakan
membuat napasku tersengal-sengal. Begitu berhasil keluar tak ku temukan lagi
sosok pemuda berwajah Tionghoa itu. Dia telah raib ditelan ribuan orang di
pelabuhan. Ahh bahkan aku belum sempat menanyakan namanya. Kebiasaan, kalau
sudah asyik menikmati suasana jadi lupa segalanya. Dulu karena terlalu asyik
mengobrol dengan Mirna di acara ulang tahunnya aku juga sampai lupa tak menjenguk
Nathan―calon suami Mirna. Dia baru saja mengalami kecelakaan saat perjalanan
menuju Jakarta. Padahal dia tengah beristirahat di kontrakan sebelah Mirna, dan
aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tiga hari lagi mereka akan
menikah. Aku dengar Nathan dan keluarganya juga tiba hari ini di Martapura.
Semoga aku dapat bertemu dengannya sebelum acara pernikahan.
Mataku menatap ke segala ruang,
melihat di setiap sudut pelabuhan. Barangkali dia masih berdiri menunggu
jemputan. Tapi sayang, sosok pemuda berkulit putih yang baru saja ku jumpai tak
dapat kutemukan.
“Hei.” Seseorang menepuk
pundakku. Mata sipit dan bekas luka di dahinya sangat kukenali. “Nona Riri, tolong
berikan sapu tangan ini pada gadis yang ada di pintu keluar itu. Dia akan menikah
bukan? Dan katakan padanya aku pasti datang,” katanya sembari menunjuk ke pintu
keluar. Gadis yang ada disana hanyalah Mirna, selain dia hanya ada para orang
tua dan anak-anak.
Otakku berputar lebih cepat
dari biasanya. Bagaimana mungkin dia memintaku memberikan sapu tangan ini untuk
Mirna. Apa dia mengenal Mirna? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku teman Mirna?
Memangnya siapa dia?
“Tuttt!!!” klakson kapal
membuatku tersentak. Sebuah kapal besar telah siap berlabuh. Dalam hati aku
mengumpat agar kapal itu tak pernah singgah disini lagi.
“Kau darimana saja, kenapa
lama sekali?”
Aku kembali tersentak. Wajah
Mirna telah nampak begitu aku memalingkan badan.
“Eh! Maaf, oh ya ini ada
titipan dari seorang pemuda,” kataku sembari menyodorkan sapu tangan berwarna
kuning dari pemuda itu. Ada sedikit noda berwarna merah disana.
Mirna tersenyum, matanya
menyisir jauh ke akhir tahun lalu. Mengingat suatu kisah dimana cinta membuat
darah segar mengucur deras dari dahi kekasihnya tepat di hari yang bertabur
ucapan dan hadiah. Dan bibir Mirna mengucap sebuah nama, “Jonathan”.
Komentar
Posting Komentar