Cerpen Tema Persahabatan


 Cerpen ini aku buat tahun di tahun 2016. Tadinya aku ikutin sebuah event,  tapi nggak ada kejelasan jadinya aku  post aja :)



SATURNUS

Jagat raya adalah ciptaan Tuhan yang maha dahsyat, yang membentang ke segala arah, sepanjang waktu, dan tidak diketahui batasnya. Disana ada kabut gas yang bernama nebula dan gugusan bintang-bintang yang membentuk suatu pola tertentu yang disebut galaksi. Salah satunya adalah galaksi Bimasakti, tempat dimana sistem Tata Surya berada. Sistem Tata Surya merupakan suatu keluarga yang terdiri atas matahari, planet, bulan, komet, meteor, dan anggota-anggota lain yang bergerak mengelilinginya. Dan satu-satunya tempat di jagat raya yang memiliki kehidupan adalah di planet. Itu pun tak semua planet. Sampai saat ini, hanya bumi lah yang dapat manusia tinggali.

Aku adalah seorang mahasiswi yang mengambil Progam Studi Bahasa Inggris, dan aku menyukai ilmu geografi. Bagiku kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan Prodi Bahasa Inggris tak akan membatasi ruang bacaku dengan ilmu-ilmu yang mengkaji fenomena geosfer. Dulu aku adalah seorang siswi SMA yang mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jadi tak heran kalau aku menyukai ilmu geografi. Bicara tentang SMA, aku jadi teringat suatu kisah. Kisah tentang sebuah persahabatan, panggil saja dia Rhea, Dion, dan aku Titan.

Dion adalah soulmate dan sahabatku. Tapi soulmate disini bukan seperti soulmate yang semestinya, bukan soulmate sepasang kekasih, hanya soulmate di sebuah persahabatan. Soulmate disini hanya ada aku dan Dion, tanpa Rhea. Kita bertiga tahu itu, dan Rhea tak mempermasalahkannya. Persahabatan kita berjalan seperti seharusnya. Sampai suatu hari, ada benih-benih cinta yang tumbuh di dalam persahabatan ini. Pagi itu aku melihat cinta di mata Rhea. Dia terlihat bahagia membaca pesan dari sahabatnya di layar ponsel. Dan sejak saat itu dunia tahu kalau Rhea menyukai Dion. Ahh, rasanya aku ingin terbang ke antariksa. Bercerita pada butir-butir debu dan bongkahan batu kalau aku pun memiliki rasa itu sejak dulu. Tapi Rhea dan Dion tak perlu tahu.

Bumi terus berputar, air terus mengalir, dan waktu terus bergulir. Aku semakin jauh dengan Dion. Bukan karena dia melupakanku, tapi aku yang menjauh. Aku tak ingin segalanya jadi rumit. Sejauh yang kutahu, Dion memang memberi rasa yang sama padaku dan Rhea. Tapi, hari itu ceritanya lain. Cinta Rhea terbalas.

“Titan, Dion menyukaiku. Tapi aku belum memberi jawaban.”

Kata Rhea sambil tertawa menunjukkan giginya yang putih dan rapi. Dion telah menyatakan perasaannya, tapi kenapa dia tak memberitahuku sebelum mengatakan itu pada Rhea. Bukankah aku adalah soulmate nya? Apa diam-diam dia tahu perasaanku? Atau dia  tak ingin aku tahu? Tapi kenapa?

Siang jadi malam, matahari jadi bulan. Setiap hari aku harus menyakiti hatiku dengan mengatakan kalau Dion dan Rhea sangat serasi. Tapi apa yang kukatakan pada mereka benar adanya, tanpa setitik dusta. Aku harus mengubur perasaanku ke dasar palung yang terdalam. Membuang jauh perasaanku, walau sejujurnya aku tak tahu harus kukemanakan perasaan ini. Aku tahu Dion menyukai Rhea, dan yang tak bisa kumengerti, kenapa dia masih bersikap manis padaku seolah tak ada sesuatu diantara mereka. Tapi aku tak pernah mengatakan itu pada Rhea, dan aku selalu meyakinkan hatiku kalau itu hanya perasaanku. Biarlah, aku tak ingin ada duri di persahabatan ini. Dan di siang yang cerah itu Rhea berkata.

“Titan, orang tuaku belum mengizinkanku untuk menjalin hubungan dengan Dion yang lebih dari ini.”

Ada kesempatan disana untukku menyemai kembali cinta yang pernah ada. Tapi keadaan itu tak menjadikan aku buta. Aku tetap mendukungnya. Mencari cara agar mereka tetap bisa berbagi kasih tanpa harus menjadi sepasang kekasih. Dan hasilnya percuma, Dion tak bisa melakukannya.

Sejak kejadian itu, Rhea dan Dion tak seperti dulu. Mereka sedikit berbeda, agak menjauh. Dan entah kenapa, Dion semakin bersikap manis padaku. Selalu menggoda, dan membuat hari-hariku tak pernah sepi. Tanpa kusadari, hatiku mekar kembali. Semakin lama semakin tak terkendali, hingga akhirnya cintaku pun bersambut. Dion dan aku menjadi soulmate yang semestinya. Aku tahu ini akan menyakiti hati Rhea. Tapi apalah dayaku? Aku tak bisa menutupi perasaanku. Aku tahu ini salah. Seharusnya kukatakan yang sebenarnya kalau aku pun punya rasa yang sama. Tapi bagaimana caranya? Aku tak mungkin menghancurkan bunga yang sedang mekar itu. Sejujurnya aku masih ragu dengan hubungan ini. Dan beruntungnya aku karena memiliki teman-teman yang selalu menguatkanku. Sampai malam itu kuberanikan diri ini untuk mengatakan segalanya.

Rhea kecewa, dan dia terluka. Kita menjadi jauh. Apalagi Rhea tak satu kelas lagi denganku. Dia sibuk dengan dunia barunya, dan aku sibuk dengan dunia baruku. Kita berjalan sendiri-sendiri.

Musim bertukar, potholes yang sebelumnya kering, kini telah berair.  Di hari raya yang membahagiakan itu Rhea menemuiku. Entah apa yang telah menyentuh hatinya. Dia meminta maaf padaku dan menyesali atas sikapnya yang dingin selama ini. Mungkin Rhea akhirnya mengerti tentang perasaanku. Terima kasih Tuhan telah kembalikan sahabatku.

Tahun berganti, ada yang janggal diantara Dion dan aku. Dan ternyata itu benar. Dua bulan setelah ulang tahunku, Dion mengatakan kalau dia tak bisa melanjutkan hubungan ini. Dia ingin kita kembali menjadi soulmate yang tak semestinya. Sungguh, hatiku rasanya seperti hutan di kawasan Tunguska Siberia yang terkena ledakan sebuah meteorit pada tanggal 30 Juni 1908 lalu. Gempa hebat mengguncang jiwaku, memporak porandakan hatiku. Dengan mudahnya dia pergi, setelah semua yang telah terjadi seolah itu tak berarti.

Malam itu aku mengerti, mungkin lebih baik seperti ini. Itu akan menjadikan persahabatan antara aku, Rhea, dan Dion kembali seperti dulu. Di dalam kehidupan pasti ada suatu kisah. Kisah itu akan berubah suatu saat, kapanpun, dan dimanapun seperti bumi yang mengalami seleksi alam. Dan sejak saat itu persahabatan kita seperti planet saturnus. Kenapa aku katakan begitu ? Karena saturnus adalah salah satu planet unik yang dikelilingi 3 cincin yang terbentuk dari jutaan potongan es. Ya, tentu saja, bola planet itu sendiri ibarat persahabatan kita. Dan kita adalah 3 cincin tipisnya yang memiliki arah sejajar dengan ekuatornya. Itu berarti, tak ada jarak dan perbedaan diantara kita.

Komentar

Postingan Populer