Cerpen Romance

 Haii.. 

Kali ini mau post cerpen lama.. 


RIBUAN HARI

Hari ini udara tak bersahabat. Hembusan kencang menghempas daun-daun di pepohonan, mengibarkan jilbab biru muda yang kukenakan, dan hawa dinginnya membekukan hatiku yang bimbang. Mungkinkah Raffi mencintaiku? Sedang kini di beranda rumah, yang harusnya telah tertata rapi kursi-kursi berbalut kain putih dengan sentuhan pita warna merah muda, banyak makanan dan minuman yang tersaji di meja-meja panjang, sebuah singgasana yang bertahta dengan megahnya, kue pengantin, panggung hiburan, dan tamu undangan. Lihatlah, yang ada hanya hamparan kekosongan. Bukankah ini mengecewakan?

“Suami Nadin meninggal, aku harus kesana.” Begitu katanya sebelum dia pergi meninggalkanku dan mimpiku. Nadin adalah sahabat Raffi sejak dulu, dan kini dia tengah terpuruk dalam kesedihan. Suaminya meninggal karena terjatuh di penambangan. Sudah seminggu lebih Raffi disana, di Bangka Belitung. Entah apa saja yang telah dia lakukan, yang ku tahu hari ini dia tak datang.

Kring!!! Suara dering handphone memutus lamunan. Terlihat wajah Raffi di layar. Meski terasa berat, aku menjawab teleponnya.

“Raffi, kapan kau akan kembali?”

Bibirku bergetar ketika menanyakan kepulangannya. Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara desau angin disana. Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. Dan sebentar lagi akan luruh dan berjatuhan ke pipiku.

“Raffi, seharusnya hari ini jadi hari bahagia kita.”

 “I’m sorry Lyla.”

Katanya yang semakin membuat hatiku remuk tak berbentuk. Aku mulai terisak. Telepon kututup dan handphone kubanting hingga pecahannya berhamburan diatas lantai. Kenapa kau tega melakukan ini kepadaku Raffi? Apa dosaku kepadamu? Kenapa kau buat aku dan keluargaku menanggung malu? Aku ingin membencimu, tapi cintaku terlalu berapi-api padamu.

***

Dua minggu berlalu, Raffi kembali ke Jakarta. Sore ini dia datang ke rumah dan menanyakan keadaanku. Setelah hampir satu jam Ibu membujukku untuk menemuinya, barulah aku keluar. Aku dan Raffi ditinggal berdua di teras rumah.

“Undangan yang belum sempat tersebar sudah aku bakar.”

Kataku membuka percakapan tanpa bertanya kabar sebelumnya. Raffi hanya terdiam dan menundukan kepala. Lengang sesaat.

“Lyla? Nadin depresi. Kedua anaknya membutuhkanku.”

Air mataku kembali pecah. Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan kita. Aku mencoba menenangkan hatiku, mendamaikan jiwaku. Tapi tak bisa. Hati dan jiwaku telah teracuni oleh luka.

“Kalau begitu pergilah. Menikahlah dengannya.”

Aku bangkit dari kursiku, dan menyandarkan tubuhku di pilar rumah.

“Nadin itu sahabatku, begitu juga almarhum suaminya. Aku tak mungkin mengkhianati persahabatan ini. Dan lagi pula, aku mencintaimu.”

Kata cintanya sedikit menghibur hatiku. Tapi kata cintanya juga mengiris hatiku. Bagaimana mungkin dia pergi meninggalkan pernikahan kita dan lebih memilih menemani sahabatnya, kalau dia benar mencintaiku.

“Lyla, aku ada di dalam keadaan yang sulit.”

Katanya lirih seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Aku tak ingin meninggalkan pernikahan kita, tapi aku juga tak bisa meninggalkan mereka. Si sulung Miranda tak akan tidur sebelum aku membacakan dongeng untuknya. Itu kebiasaan yang dilakukan ayahnya menjelang tidur. Dan si bungsu Alin, dia baru berusia 2 tahun. Tak ada yang merawat mereka, kakek dan neneknya menemani Nadin di psikeater. Saudara? Almarhum suaminya anak tunggal. Sedangkan saudara Nadin jauh. Lyla, Miranda yang usianya baru 7 tahun pernah berkata, katanya aku ini adalah orang baik, seperti ayahnya. Kalau boleh dia ingin tetap bersamaku. Karena dia melihat sosok ayahnya dalam diriku.”

Hatiku tersentuh mendengar perkataan Raffi. Aku yang pernah berpikir kalau mereka adalah pencuri yang membawa lari kekasihku kini mulai mengerti. Pernikahanku gagal bukan karena mereka, tapi itu adalah takdir Allah. Ya, Allah pasti tahu jalan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

“Kau menyayangi mereka bukan?”

“Iya.”

“Kalau begitu tinggalah bersama mereka. Jaga dan rawat mereka.”

Raffi bangkit dari kursinya dan mendekatiku.

“Apa itu artinya sudah tak ada tempat untukku? Lyla aku minta maaf atas kejadian yang lalu. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.”

“Aku tidak tahu Raffi. Aku mencintaimu, tapi apa lagi yang bisa kulakukan selain melepasmu? Nadin, anak-anak itu, mereka semua membutuhkanmu. Aku tak mungkin merampas kebahagiaan kedua anak itu. Percayalah Raffi, kau bisa jadi ayah yang baik bagi mereka. Dan aku juga percaya kalau cinta mereka lebih besar dari cinta yang kupunya.”

Raffi menatap lekat ke wajahku yang tampak kacau. Mata sembab, hidung merah, dan bibir kering. Dia memandang iba kepadaku.

“Dalam cinta tak ada sakit bukan?”

Aku berusaha kuat di depan Raffi, walaupun sebenarnya hatiku rapuh. Bahkan terlalu rapuh. Aku menarik ujung bibir agar tak menunjukkan kesedihan di wajahku sembari menyibak air mata yang mengalir di pipiku.

Matahari telah menapaki horizon cakrawala. Ku lempar pandangan ke atas sana. Warna jingganya berpendar menghiasi angkasa, dan menjadikan siluet-siluet yang indah. Dan suara adzan di kejauhan mengakhiri percakapanku dengan Raffi.

*** 

Enam tahun terlewati. Usiaku kini 29 tahun. Usia yang sudah sangat matang bagi seorang wanita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Ibu kerap kali bertanya, kapan kau akan menikah? Atau, apa kau takut gagal lagi? Jawabanku sederhana, aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta Bu. Dan Ibu hanya mendengus pelan.

Malam ini mataku enggan tuk terpejam, arlojiku menunjukkan pukul 01.35 WIB. Dua hari lagi saudaraku yang di Palembang akan menikah. Semua kerabatku pasti akan kesana. Dan mereka pasti akan menanyakan hal yang sama seperti Ibu. Aku tak mengapa menjadi topik percakapan mereka. Toh aku sudah terbiasa mendapat cibiran dari orang-orang. Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibuku? Mungkin lebih baik aku di rumah saja. Aku tak ingin membuat mereka sedih.

“Ibu tidak akan pergi kalau anak gadis Ibu juga tidak pergi.”

Begitu kata Ibu seusai sholat subuh.

“Bu, jangan begitu. Tidak baik kalau Ibu tidak menghadiri pernikahan Bang Hendra.”

“Peduli apa kau tentang baik atau tidaknya. Lagi pula apa untungnya menghadiri pernikahan saudara. Toh mereka juga tak akan bergantian datang kesini. Di rumah ini kan tidak ada yang akan menikah.”

Suara Ibu terdengar berat. Aku menatap wajah Ibu. Ada guratan-guratan kesedihan disana. Aku tahu dia ingin sekali aku menikah, tapi aku bisa apa? Pintu hatiku telah kututup sejak Raffi kembali ke Bangka Belitung. Mata Ibu mulai berkaca-kaca, aku mendekatinya dan langsung memeluknya.

“Ibu ini sudah tua Lyla. Ibu ingin melihatmu bahagia. Tertawa, bercanda dengan suami dan anak-anakmu yang lucu dan menggemaskan. Ibu takut kalau Ibu dan Ayah sudah pergi sebelum kau menikah. Siapa yang akan menjagamu?”

“Ibu itu ngomong apa sih? Bukankah selama ini aku bahagia? Punya orang tua yang baik, yang selalu melimpahiku kasih sayang. Bahagia itu tak harus tertawa kan Bu? Ya sudah, kalau begitu besok kita pergi.”

Ibu menatapku, aku hanya menjawab tatapan Ibu dengan senyuman.

Esoknya kita berangkat ke Palembang. Setelah satu jam pesawat terbang di angkasa, akhirnya pesawat mulai turun mengeluarkan rodanya dan mendarat di bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Sebuah mobil berwarna hitam metalik telah terparkir rapi menunggu kami. Tidak lebih dari satu jam kami sampai di rumah Bang Hendra. Kebetulan sepasang pengantin baru itu masih di hotel tempat akad nikah, mungkin karena nanti malam mereka akan menggelar resepsinya disana, jadi begitu sampai aku langsung istirahat di kamar tamu tanpa menemui mereka terlebih dahulu. 

*** 

Jam berdentang menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tamu undangan mulai memenuhi ruangan besar yang dipenuhi banyak stand makanan, dan 2 buah panggung megah. Ruangannya terlihat cantik karena bertabur kerlap kerlip lampu, berhias aneka macam bunga, dan beberapa lampion bergantung di langit-langit ruangan. Saudaraku ini memang termasuk konglomerat di Palembang. Kebanyakan para tamunya juga dari kelas yang sama. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menghadiri pesta-pesta seperti ini. Rasanya dunia begitu semrawut melihat orang-orang mengenakan pakaian dengan berbagai macam model, gaya rambut maupun hijab, sepatu branded, dan aksesoris yang super mewah. Belum lagi ditambah dengan suara bising para tamu dicampur dengan gema suara alunan melodi. Aku tak mengerti kenapa di balkon yang sedang aku singgahi ini hanya ada aku sendiri. Apa hanya aku yang tak suka keramaian? Atau aku saja yang terlalu menutup diri?

Hujan turun di kota Palembang. Rintik airnya menerpa wajahku. Menghapus sedikit penat di hatiku. Aku menatap jauh ke depan, menikmati nyala redupnya lampu-lampu di luar sana. Entah kenapa setiap ada acara pernikahan aku teringat Raffi. Sudah lama dia ada di Bangka Belitung, dari sini, perlu menyeberang laut untuk sampai kesana. Sedang apa dia sekarang? Mungkinkah disana hujan? Mungkinkah dia sedang menikmati hujan seperti yang kini aku lakukan? Mungkinkah...

“Lyla?”

Seketika dunia membisu ketika kulihat seseorang yang memanggilku. Apakah itu benar kau? Atau aku hanya berhalusinasi? Enam tahun aku hidup dalam kegelapan tanpa penerang di jiwaku. Enam tahun aku ada di dalam jurang kepedihan. Enam tahun aku menikmati kesendirianku tanpa cinta yang semestinya. Enam tahun aku hidup di dunia yang penuh luka. Enam tahun bukanlah waktu yang mudah untuk melupakanmu Raffi. Tapi kenapa kau tiba-tiba muncul di depan mataku? Kau membuatku semakin tak bisa melupakanmu. Dan adanya kau dan kedua anak itu sekarang, telah mengusik hatiku. Luka lama itu hadir kembali. Aku memang yang memintamu untuk pergi, tapi bukan berarti aku tak mencintaimu Raffi.

“Apa kabar Lyla? Kenapa sendirian? Dimana suami atau kekasihmu?”

Raffi tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya. Aku menghela napas panjang, mencoba tersenyum sembari menggelengkan kepala.

“Apa kedua anak itu...?”

“Oh iya, ini si sulung Miranda dan si bungsu Alin.”

Aku dan Raffi saling terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tak lama seorang wanita cantik, tinggi semampai datang dengan menggendong seorang anak. Mungkin itu Nadin dan anak mereka. Di belakangnya seorang laki-laki yang tak lain adalah Bang Hendra mengiringi langkahnya.

“Hai Lyla, lama tak berjumpa. Sepertinya sudah hampir 9 tahun ya sejak pernikahanku dengan Diana. Oh ya kenalkan, ini istri baruku. Cantik bukan?”

Kata Bang Hendra sambil merangkul seorang wanita yang aku kira adalah Nadin.

“Hai Lyla. Aku Nadin. Oh ya, Raffi cerita banyak tentang kau.”

Katanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku segera menjawab uluran tangan itu.

“Lyla, Raffi, kita tinggal dulu ya. Ayo anak-anak.”

Raffi melepas tangannya dari genggaman kedua anak itu. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku masih tak mengerti. Raffi menatapku, dan tatapan itu selalu saja meneduhkan jiwaku. Tidak, aku melempar pandangan keluar. Aku tak mau hanyut dalam buaian cinta ini.

“Ada apa Lyla? Nadin itu memang istri Hendra, saudaramu. Dan anak yang digendong Nadin itu anak Hendra dengan istri pertamanya. Maaf Lyla, aku tak bisa jadi ayah yang baik untuk Miranda dan Alin. Aku harap kau tak berpikir buruk tentangku. Selama enam tahun ini aku memang di Bangka Belitung, tapi setelah Nadin sembuh dan kembali ke rumah aku tak tinggal di rumahnya lagi.”

Raffi melangkahkan kakinya, dan berhenti tepat di sampingku. Sudah lama aku tak bicara berdua dengannya, berdiri bersama, menatap kota yang sama, menikmati hujan yang sama, dan merasakan kerinduan pada bulir-bulir air yang datang menerpa. 

“Tiga tahun setelah aku pergi, Nadin sembuh. Dan aku tak berani pulang menemuimu, aku takut melihatmu telah bersanding dengan laki-laki lain Lyla. Sungguh aku seorang pengecut, tapi percaya atau tidak hatiku masih sama seperti saat aku pergi enam tahun yang lalu.

Kau tahu Lyla, disetiap sujudku selalu terbayang wajahmu. Aku bahkan tak tahu berdosa atau tidak, sah atau tidak sholatku itu. Wajahmu hadir begitu saja. Dan terus terang, sampai saat ini aku masih mencintaimu. Ya meskipun ku tahu, aku sudah tak layak dapatkan cintamu lagi. Tapi kalau kau mengizinkan, dan Allah meridhoi aku ingin menjadi imammu Lyla. Menuntunmu di dunia yang fana ini hingga menuju ruang abadi.”

Hujan semakin deras mengguyur kota Palembang. Riuh suara musik dan suara gemuruh petir di angkasa begitu memekakkan telinga. Tapi semua itu tak membuat suara Raffi tenggelam. Air mataku berderai bak hujan badai. Ya Rabb, apakah aku dan Raffi punya cinta yang sama? Cinta yang ribuan hari tak kunjung lebur meski dikikis sang waktu. Hanya Kau yang tahu seisinya kalbu. Tapi jika Kau izinkan, aku ingin menjalankan sunah Rasul-Mu bersama Raffi, cintaku yang telah lama pergi.

Komentar

Postingan Populer