Waktu
Derai hujan di luar rumah memecah keheningan. Sejak sore hujan turun membungkus kota. Sudah lewat dari beberapa hari terik matahari serasa membakar udara. Jemuran tetangga kering meski tak benar-benar tersentuh sinarnya. Ya, hawa panas dari hembusan angin itu cukup menyengat. Akan tetapi, malam ini terasa jauh lebih mendamaikan. Udaranya sejuk dan irama tetesan air hujan yang terdengar lembut. Sudah lama bukan aku tak menikmati suasana seperti ini? Terkadang aku ingin waktu berputar dengan lambat. Aku tak suka menua. Apalagi waktu begitu dekat dengan perpisahan. Aku tak suka berpisah pada hal-hal tertentu.
Dua tahun terakhir ini aku begitu menyia-nyiakan waktu, seolah takkan ada yang salah kedepannya. Aku selalu berpikir semua ada dalam genggamanku. Namun nyatanya aku keliru. Aku tak bisa mengendalikan waktu. Sekarang aku benar-benar merutuki kebodohanku. Meski begitu, aku takkan berandai-andai. Khayalan itu memang menyenangkan. Dia bisa jadi hiburan di waktu senggang. Tapi dia juga bisa jadi hal yang begitu kejam untuk menghempasku di kenyataan. Khayalanku adalah keinginanku, dan hidup takkan berjalan semauku. Untuk itu, aku tak ingin berandai-andai pada waktu yang telah berlalu.
Komentar
Posting Komentar