Cerpen Pelabuhan dan Perpisahan


Pelabuhan dan Perpisahan


Aku masih ingat dengan jelas bagaimana raut wajahmu yang membeku ketika melihatku. Seharusnya itu menjadi raut wajahku, tapi nyatanya aku lebih tenang dari yang kukira. Sudah setahun berlalu sejak kejadian di pelabuhan kala itu. Aku tak pernah menyangka bahwa kau akan terburu-buru pergi meninggalkanku. Bahkan aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal dengan benar. 

Riana, nama yang sering kusebut dalam doa. Aku pernah membayangkan akan menua bersamanya, dimana hanya ada hari-hari yang dipenuhi gelak tawa. Membayangkan saja sudah membuatku merasa bahwa Tuhan teramat baik pada orang seperti diriku ini. Belum lagi, aku mempunyai kehidupan yang cukup baik. Aku punya keluarga yang harmonis, pekerjaan yang layak, dan juga seorang wanita yang kuyakini akan menjadi teman hidupku kelak. Sungguh kehidupan yang diinginkan oleh banyak orang bukan? Hanya saja aku lupa, bahwa Tuhan selalu punya rencananya sendiri. Aku terlena dengan segala kebaikan yang Tuhan berikan, sehingga ketika ujian-Nya tiba aku seperti menjadi manusia yang tak berdaya. 

Riana memilih pergi dari hatiku. Kata pisahnya mengingatkanku pada perpisahan kita di pelabuhan. Saat itu aku menganggap sikap buru-burumu semata-mata hanya karena kapal akan segera berangkat, tapi kini aku tersadar bahwa sikapmu itu karena memang keinginanmu untuk cepat-cepat pergi dariku. Haha, maaf karena aku terlambat menyadarinya. Kau pasti sangat kesulitan kan? 

Dia berkata bahwa sudah tak mencintaiku lagi. Mungkin memang benar, karena setelah perpisahan kita di pelabuhan dia jarang menghubungiku. Tak lama setelah itu dia memintaku untuk berhenti menghubunginya. Dia ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Padahal aku sudah berencana untuk melamarnya setelah kepulangannya nanti. 

Minggu lalu aku tak sengaja bertemu dengannya di sebuah acara malam yang diselenggarakan oleh pemerintah kota. Itu adalah pertemuan pertama kita setelah berpisah di pelabuhan. Rupanya dia datang bersama suaminya. Tak banyak kata yang kita ucapkan, hanya sekadar menyapa dan bertanya kabar. Sejujurnya aku ingin menanyakan alasannya pergi meninggalkanku, tapi aku rasa itu sudah tak perlu. 

Komentar

Postingan Populer