Cerpen Bertema Keluarga
Cerpen ini sudah lama aku buat, kata-katanya saja masih sangat sederhana. Jadi, mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah disana. Tapi entah mengapa, acap kali membacanya aku merasa masih muda. Haha, ya ada kenangan masa SMA didalamnya.
|
k
|
opi
edai
Uncle Hubert
Melbourne, 27 Desember
2014
Pukul 11.40 P.M
Malam kian larut, aktivitas mulai terhenti. Senyap dan
sepi. Tapi hati ini terus memberontak, membuatku tak bisa tenang. Haruskah aku
lari, pergi, dan takkan pernah kembali? Aku tak sanggup hidup kalau terus
seperti ini. Pikiranku kalut, dan bayang-bayang kisah itu membawaku kembali
kesana.
Jakarta, 09 Februari 2013
Pukul 17.00 WIB
“Cukup!!! Aku nggak tahan lagi. Kalau memang kita udah
nggak cocok, nggak sejalan, dan hubungan ini udah nggak bisa untuk
dipertahanin, lebih baik kita akhiri.”
Darahku serasa berhenti mendengar ucapan Mama yang
dilontarkan ke Papa.
“Apa kita nggak bisa untuk memperbaikinya?”
“Memperbaiki? Bagaimana mungkin kita akan memperbaikinya,
sedangkan selalu ada pertengkaran diantara kita?”
Sejak saat itu, aku tak pernah lihat Mama di rumah ini.
Tak ada lagi wanita yang mencium keningku saat aku akan tidur, tak ada yang
membangunkanku ketika matahari mulai tersenyum, dan tak ada tempatku bersandar
saat menghadapi hiruk-pikuknya kehidupan. Aku kecewa, tak mengerti, kenapa Mama
memutuskan untuk mengakhiri hubungan sakral yang telah di bina selama hampir 18
tahun.
Melbourne, 28 Desember
2014
Pukul 03.00 A.M
Aku tersadar dari lamunanku. Tak terasa kenangan itu
membuatku meneteskan air mata. Aku segera bangkit dan membasuh mukaku yang
tampak kusut. Beberapa saat terdiam, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil
kontak mobil dan pergi menyusuri jalanan di kota Melbourne.
Lama berkeliling, mobilku terhenti. Aku berniat untuk
menikmati suasana pagi ini sambil menunggu sunrise.
Aku mendongakkan kepala menatap ke langit. Disana terlihat rasi bintang
yang membentuk layang-layang. Perlahan pandanganku mulai kabur, mata ini tak
lagi menatap ke langit, tapi menatap jauh menerobos batas nyataku. Tak sadar
pikiranku tenggelam dalam kisah yang telah lalu.
Jakarta, 14 April 2013-11
Juli 2014
“Jilly,
Papa harap kamu akan dapat nilai yang memuaskan.”
“Pa,
kalau nilaiku bagus, apa Papa mau mengabulkan permintaanku?”
“Berapa nilai yang kamu janjikan.”
“9,
rata-rata UN 9.”
“Apa
yang kamu inginkan?”
“Kita
kumpul lagi sama Mama.”
Papa terdiam sejenak, lalu menatapku. Dan berkata...
“Papa akan membawanya untukmu.”
Demi berkumpul dengan Mama, aku belajar mati-matian. Kuhabiskan
hariku hanya untuk belajar. Sebulan kemudian, saat pengumuman tiba, segala
impian yang telah ku rangkai dengan rapi akhirnya berhasil. Malam itu, Papa menepati janjinya. Aku, mama, dan papa
makan malam bersama. Keluargaku seperti kembali utuh. Tapi bukan itu yang
kuinginkan, bukan hanya berkumpul makan malam bersama. Tapi berkumpul bersama
selamanya.
“Tidak sayang, Mama memang akan menikah lagi, tapi bukan
dengan Papamu.”
“Tapi Papa udah...”
“Jill, waktu itu Papa hanya menjanjikan untuk membawa Mama
bertemu denganmu, bukan berarti membawa Mama kembali ke rumah sama kita seperti
dulu.”
“Bohong!!! Kalian semua bohong!!!”
Aku pergi meninggalkan mereka. Bodoh. Aku membodohi
diriku sendiri. Kenapa aku harus berharap lebih.
“Aaaaa!!!”
Aku menjerit, mencoba meluapkan amarahku. Aku bukanlah
tipe orang yang suka menyumpahi Tuhan jika sedang dalam masalah. Aku juga bukan
tipe orang yang suka ngomel sendiri seperti orang gila, saat sedih, marah, atau
kecewa. Hari-hariku sesudah kejadian itu terasa hampa, jiwaku telah benar-benar
terpenjara di dalam sepi.
Setahun kemudian
aku mendapat undangan pernikahan Mama. Hatiku remuk, dadaku terasa
sesak. Keluargaku takkan pernah kembali. Aku ambruk jatuh sakit selama hampir
sebulan. Akhirnya setelah sembuh aku memutuskan untuk pergi ke Australia dan
melanjutkan kuliahku di University 0f Melbourne. Kutinggalkan Papa dan
segalanya.
Melbourne, 28 Desember
2014
Pukul 05.00 A.M
Hembusan angin pagi menyadarkanku. Aku menghela nafas
panjang. Ternyata sunrise telah di
depan mata. Ku hidupkan kembali mesin mobil yang sedari tadi tak bersuara
memintaku untuk pergi. Biasanya aku pergi ke kedai kopi milik Uncle Hubert, daripada
pergi ke museum, City Hall, Railway Station, Royal Botanical Garden, atau
Victorian Art Centre. Uncle Hubert adalah satu-satunya adik Papa. Beruntung Papa
adalah orang Australia yang punya saudara kandung di Melbourne. Jadi aku tak
sendiri di negeri kanguru yang luas ini.
Bagiku kopi di kedai Uncle Hubert ini adalah obat paling
ampuh untuk mengusir rasa sedihku. Kopi ini mengajarkanku 1 hal. Bahwa hidup
itu tak selamanya pahit dan tak juga selamanya manis. Keduanya akan berbaur dan
menjadi sebuah rasa yang sempurna. Setiap kali aku datang, Uncle Hubert selalu
bilang,
“I know you can throught it.”
Komentar
Posting Komentar