Cerpen Romantis
Cerpen ini selesai ku buat pada bulan Maret 2016. Cerpen ini pernah aku ikut sertakan dalam event menulis sebuah penerbit. Tapi karena tak ada kelanjutan kabar dari penyelenggara event, jadi aku publikasikan saja disini. Hehehe :)
Stasiun
Patah Hati
Deru roda kereta
kembali terdengar. Riuh suaranya menenggelamkan teriakan para pedagang asongan.
Di gerbong depan terlihat seorang asisten masinis yang melambaikan tangannya pada
anak-anak yang berlarian didekat rel kereta. Dan petugas stasiun masih sibuk
mengeluarkan suaranya, memberi informasi dan peringatan yang hampir sama
seperti sebelumnya. Kereta jurusan Surabaya itu telah melintas. Dan sebentar
lagi keretaku akan segera berangkat. Ini perjalanan pertamaku setelah sekian
lama aku tak pergi kesana, stasiun penuh kenangan. Ahh setiap melihat kereta
ini, bayang wajahmu selalu bergentayangan di ruang rinduku, gadis misterius
yang selalu menarik hatiku. Takkan ada bosannya aku mengingat segala tentangmu.
***
Gerimis mulai turun.
Bulir-bulir airnya membuat genangan kecil di selokan. Orang-orang berhamburan
mencari tempat berteduh. Dalam sekejap segala kursi yang ada di peron tak ada
satupun yang kosong. Kanvas putihku masih bersih. Sebenarnya hari ini aku ingin
melukis senja di stasiun, tapi ternyata senja lebih dulu petang. Mega mendung
di atas sana telah membabi buta. Nampaknya dunia tak rela tanganku menggores
wajah senja di atas kanvas putihku. Otakku berputar lebih cepat dari biasanya.
Apa yang harus kulukis dan kupamerkan jika hujan selalu berderai? Apa aku harus
melukis hujan? Melukis rintik air yang menjatuhi selembar daun kering di
kubangan? Pusing.
Kututup wajahku dengan
kedua telapak tangan berharap ada keajaiban. Benar saja, begitu kubuka, aku
melihat sebuah objek indah di seberang sana, kau. Mengenakan stelan blus pink
fanta dan tanganmu memegang payung biru polos yang membuat tubuhmu terlindung
dari hujan. Jilbab merah mudamu melambai-lambai ditiup angin. Dan mataku tak
bisa lepas memandangmu, sampai sebuah kereta melintas dan memutus kekagumanku.
Dalam hati aku mengumpat agar kereta itu tak pernah berhenti di stasiun ini
lagi. Lima menit berjalan lebih lambat
dari lari keong 5m. Sedang begitu kereta pergi, guyur hujan semakin deras membuat
jarak pandangku semakin jauh. Dan kau
pun pergi.
***
Hari-hari berikutnya
aku selalu menunggumu sehabis senja. Dalam diam kugambar wajahmu dalam hatiku.
Wajah sendu yang selalu membuatku ingin tahu. Dan kuasku menggores dirimu pada
kanvasku. Gadis misterius, yang selalu mengenakan stelan blus pink fanta,
payung biru polos, dan jilbab merah muda.
“Dia sudah hampir dua
bulan ini selalu datang sebelum jam tujuh.” Kata Pak Tua petugas stasiun
kepadaku setelah kau pergi. “Dia menunggu.”
Aku memiringkan
kepalaku sembari menatap Pak Tua. Kupasang ekspresi ingin tahuku agar dia mau
bercerita tanpa harus kuminta.
“Aku mengenalnya Nak.
Dulu setiap dua minggu sekali dia selalu kesini mengantar calon suaminya yang
akan pergi menjenguk ibunya. Mereka selalu tertawa, tapi hari itu ceritanya
lain. Mereka bertengkar, entah apa yang mereka ributkan. Dan yang kutahu, calon
suaminya tak pernah kembali.”
Cat minyakku habis.
Kopi dicangkirku pun tak tersisa. Sejak saat itu aku tahu kau terluka.
Hari ke tujuh aku
datang ke stasiun. Akhirnya lukisanku telah
rampung. Esoknya kupamerkan hasil karya itu ke galeri, dan kuberi judul
“Stasiun Patah Hati”. Disana ada kau yang memegang payung biru polos, dan
sedikit badan kereta lengkap dengan sorot lampunya. Luar biasa. Baru sehari kupamerkan,
telah ada seseorang yang menginginkannya. Kau.
“Kenapa judulnya
stasiun patah hati Bang?”
“Maaf aku tak bermaksud
...”
“Pak Tua pasti banyak
bercerita tentangku bukan?”
“Mmm iya, tapi ...”
“Tapi aku tak menunggu
lagi Bang.” Kau memotong perkataanku untuk yang kedua kalinya. “Aku tahu, dia
takkan mungkin datang.” Matamu menatap pada lukisanku, tapi pikiranmu terbang
jauh menerobos waktu yang sudah berlalu. “Dia pergi bukan karena ingin pindah
tempat kerja atupun agar lebih dekat dengan ibunya. Dia sakit. Aku tahu itu
meskipun dia diam.”
“Mbak, neng, eh ...”
“Reya.”
“Iya Reya, maaf kalau
aku telah lancang. Tapi ...”
“Tidak apa-apa. Aku
senang bisa menjadi model lukisanmu.” Katamu sembari tertawa renyah. Ahh baru
kali ini aku tak melihat wajah sendu itu.
Setelah perjumpaan kita
di galeri, aku tak pernah lagi datang ke stasiun. Garapanku telah selesai, dan
aku harus kembali ke tempat asalku. Sebenarnya itu keadaan yang cukup berat
untukku meninggalkanmu, karena sebelumnya kau selalu menyempatkan waktu mampir
ke galeri selama satu minggu, walaupun itu hanya sekadar untuk mencari lukisan
terbaru. Tapi setidaknya itu menjadikan aku bisa lebih dekat denganmu.
Sungguh, setelah aku
pergi, aku tak pernah tahu lagi tentang dirimu. Kau telah raib dari hadapanku.
Raut wajahmu, payung biru polosmu, jilbab merah mudamu, dan stelan blus pink
fanta yang sering kau kenakan tak pernah terlihat oleh mataku. Tapi bayangmu
masih tersisa dan telah bersemayam di duniaku yang penuh ilusi dan fantasi. Kau
kerap menjelma jadi sesuatu yang tak jauh dariku. Kadang jadi kanvas, kuas, cat
minyak, bahkan aku.
Tut ... tut ... tut ...
klakson berbunyi panjang. Keretaku telah sampai di stasiun penuh kenangan. Kuambil
sebuah lukisan terbaruku yang bersandar di dekat jendela. Ahh hatiku bergetar.
Aku lihat kau berdiri disana. Wajah cantikmu terpancar cahaya rembulan.
Senyummu mengembang begitu melihat kereta ini telah tiba. Dan kau melihatku.
Matamu dan mataku saling bertaut sebelum akhirnya kau menemuiku setelah aku
keluar dari dalam kereta.
“Abang pelukis? Kemana
saja, aku mencarimu ke galeri tapi kau tak ada?”
“Maaf, memangnya ada
apa mencariku?” jawab dan tanyaku. Dengan sedikit gugup aku berusaha melempar
senyum padamu.
“Tahukah kau Abang
pelukis, setelah kau pergi aku selalu datang kesini sebelum senja.”
“Kenapa? Bukankah
keretanya sampai jam 19.05 ?”
Warna merah bersemu diwajahmu.
Kau tersipu malu.
Komentar
Posting Komentar